
Pada pertumbuhan ekonomi dan visi menjadi pusat ekonomi yang maju, inklusif, dan berdaya saing, Semarang menghadapi tantangan untuk memastikan bahwa pembangunan tidak mengikis identitas yang menjadi kekuatan kotanya sendiri. Kawasan-kawasan bersejarah seperti Kota Lama, Pecinan, Kauman, hingga Pasar Johar menyimpan jejak panjang perjalanan kota sekaligus potensi besar bagi pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif. Namun, di balik peluang tersebut, muncul pertanyaan yang semakin relevan: bagaimana ruang-ruang warisan dapat tetap hidup, beradaptasi dengan kebutuhan warga hari ini, sekaligus menjaga nilai sejarah yang dikandungnya? Melalui pendekatan placemaking, Catatan Kota ini melihat bahwa warisan kota tidak semata-mata soal pelestarian bangunan, melainkan tentang bagaimana ruang-ruang tersebut terus digunakan, dimaknai, dan dirawat bersama oleh masyarakat yang hidup di sekitarnya.
Urun Daya Kota melalui rangkaian agenda The City Meetup Semarang, laporan ini merangkum hasil observasi dan percakapan warga melalui Walking Tour dan Forum Curhat Kota di koridor Pecinan, Kauman, Pasar Johar, Alun-Alun, hingga Kota Lama. Temuan yang muncul menunjukkan bahwa warga membutuhkan lebih banyak ruang publik yang inklusif, terjangkau, dan mendukung aktivitas sosial maupun kreatif. Pada saat yang sama, mereka juga menyoroti berbagai tantangan, mulai dari bangunan kosong yang belum termanfaatkan, parkir liar, ancaman banjir dan panas perkotaan, hingga perkembangan kawasan yang dinilai belum sepenuhnya selaras dengan identitas sejarahnya. Dari sana, Catatan Kota ini mengajak pembaca melihat bahwa masa depan ruang warisan tidak hanya ditentukan oleh upaya konservasi fisik semata, tetapi juga oleh kemampuan kota dalam menavigasi kepentingan pelestarian, kebutuhan warga, serta arah pembangunan secara partisipatif dan berkelanjutan.