
Kota dihadirkan sebagai ruang hidup yang mestinya aman, nyaman, dan inklusif—termasuk bagi perempuan dengan mobilitas harian yang kompleks. Namun, mobilitas harian di kota tidak pernah berlangsung sederhana. Aktivitas personal, produktif, dan sosial saling bertaut dalam satu rangkaian perjalanan, membentuk pola rantai perjalanan (trip chaining) yang kerap luput dari perencanaan kota. Dalam keseharian, rantai perjalanan ini memunculkan perbedaan mencolok antarindividu, dipengaruhi faktor demografi, usia, pendapatan, hingga akses moda transportasi. Pada kelompok tersebut, perempuan menonjol sebagai pegiat mobilitas paling kompleks: Singgah bekerja, mengantar anak, berbelanja, hingga mengurus kebutuhan domestik dalam satu alur perjalanan. Pola ini menjadikan ruang kota sebagai elemen krusial yang menentukan efisiensi, kenyamanan, sekaligus keselamatan mobilitas mereka.
Pada sisi lain, realitas perkotaan Indonesia menunjukkan bahwa ruang dan infrastruktur mobilitas belum sepenuhnya berpihak pada kompleksitas tersebut. Pertimbangan keamanan, kenyaman, keterbatasan layanan, hingga biaya perjalanan kerap memaksa perempuan menempuh rute lebih panjang dan melelahkan. Kala kota gagal membaca pola rantai perjalanan warganya, ketimpangan akses pun menguat. Maka, pendekatan perencanaan berbasis kebutuhan nyata, melalui transportasi publik yang fleksibel, ruang publik yang aman, serta kebijakan berperspektif gender, jadi prasyarat kota yang adil.