Bagaimana Sebuah ‘Patokan’ Bisa Dorong Keterlibatan Warga Kota?

Jumat, 12 Desember 2025
Kontributor
Jasmine Khairani
Penulis
Raihan Hasya
Editor
Safira A.
Visual
Unduh Artikel

Ikhtisar

Perkembangan kota yang kian dinamis membawa konsekuensi pada cara warga memahami, mengingat, dan melekat pada ruang hidupnya. Elemen fisik seperti jalur, batas, kawasan, simpul, dan tengara (patokan) jadi struktur, sekaligus penanda yang membentuk citra, identitas, dan pengalaman harian tiap unsurnya di kota. Teori Image of the City dari Kevin Lynch menegaskan kota tidak pernah hadir hanya sebagai wujud visual, tetapi sebagai rangkaian cerita yang ditangkap oleh ‘pengamat’-nya, yakni warga, lewat ingatan, rasa aman, kebiasaan, dan nilai budaya yang terikat pada fisiknya. Kala elemen ini hadir kuat dan relevan, tercipta sense of place yang yang menumbuhkan rasa memiliki. Sebaliknya, citra kota dapat merosot ketika elemen fisiknya membingungkan, homogen, kehilangan identitas.

Namun, citra kota yang bermakna lahir dari hubungan timbal balik antara warga dan pemangku kebijakan. Mental mapping dan praktik-praktik partisipatif, menunjukkan bahwa pengalaman warga dapat memperkaya pemahaman akan kebutuhan nyata di lapangan. Tengara, sebagai elemen yang paling mengikat secara emosional, dapat jadi pisau bermata dua: Menguatkan atau justru melemahkan kedekatan warga, tergantung seberapa jauh ia mewakili identitas yang hidup di kota. Oleh karena itu, menghadirkan elemen fisik yang memudahkan navigasi, menjaga kehadiran simbol-simbol yang membentuk sejarah dan keseharian, serta menghindari ikon yang sekadar meniru tanpa makna, jadi langkah penting untuk merawat keterlibatan warga dan menumbuhkan kota yang berdaya dan berkelanjutan.